Asnaf Zakat dan Revitalisasi Zakat
Written by swadaya   
Wednesday, 11 June 2014 21:31
Assalamu'alaikum Wr., Wb.
Ustadz saya ingin bertanya antara tugas amil dan asnaf lainnya serta revitalisasi zakat dalam pemberdayaan secara real di lapangan dan era modern ini. Dan mohon sertakan pendapat para ulama.
(Ihsan M – Pekanbaru)

Umat Islam selalu diperintah berzakat bagi yang berkemampuan, baik zakat fitrah maupun zakat mal (harta benda). Diantara fungsi zakat itu diberikan kepada fakir dan miskin. Lalu, bolehkah zakat itu untuk membangun Masjid, termasuk misalnya untuk membangun madrasah?

Penyaluran zakat itu sudah ditentukan siapa-siapa saja yang berhak menerimanya. Lalu terkait pertanyaan itu ada yang membolehkan dan ada yang tidak, tetapi yang perlu dicatat, bahwa zakat itu bukan satu-satunya sumber untuk membangun masjid.

Dalam Al-Qur’an tentang mereka yang berhak menerima zakat yaitu Surat At-Taubah ayat 60, artinya : Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, muallaf, untuk memerdekaan hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, fi sabilillah (untuk jalan Allah), Ibn sabil (orang yang sedang dalam perjalanan), sebagai kewajiban dari Allah SWT. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Nabi Muhammad SAW ketika memberikan zakat sebagian kepada pejuang-pejuang di jalan Allah (fi sabilillah) yang secara sukarela (milisi), dan memang sebagian besar pejuang di masa Nabi itu milisi. Baru pada masa sahabat Umar Ibn Khatab ada pasukan atau tentara Islam.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pembagian zakat itu terserah imam, kalau yang diberikan hanya untuk satu asnaf (bagian) dari yang berhak menerima itu, menurut pendapat Imam Abu Hanifah silahkan saja.

Ulama-ulama mutaakhirin sesudah abad ke 5 sampai sekarang ini menta’wil kata fi sabilillah dipersamakan dengan ‘Maalul Masholih’ yaitu pos keuangan, dana untuk berbagai sumber, termasuk dari rampasan perang. Makna fi sabilillah diperluas, yaitu apa-apa saja untuk kebutuhan ‘di jalan Allah’ termasuk tentunya untuk membangun masjid.

Di zaman Nabi, Amil (yang mengelola zakat) itu merupakan penggerak zakat, mereka yang mengurus mulai dari proses hingga pendistribusiannya, termasuk memberikan pembinaan kepada yang menerima, seperti kepada para fakir dan miskin.

Ada data dalam sejarah, pada prinsipnya zakat itu untuk menekan angka kemiskinan, bukan untuk memelihara kemiskinan. Buktinya dalam sejarah, mulai zaman Nabi, Khalifah sampai pada masa Umar bin Abdul Aziz, ketika itu saat akan menyalurkan zakat merasa kesulitan karena hampir tidak ada lagi yang menerima zakat, itu menunjukkan penekanan kemiskinan berhasil. Jadi bagaimana dengan zakat itu mampu menekan jumlah kemiskinan/kemelaratan.

Amil merupakan pengelola zakat, termasuk badan-badan zakat yang ada itu tugasnya bukan hanya menerima dan memproses saja, tetapi berkewajiban juga dalam pendistribusiannya, termasuk bagaimana dalam membina dan memberikan pembinaan kepada fakir miskin yang menerima zakat itu. Amil Zakat diharapkan bisa ikut serta memberdayakan zakat secara benar dan tepat.

Tentu, diharapkan zakat yang diterima itu tidak hanya untuk dikonsumsi, tetapi bagaimana bisa diberdayakan untuk mengangkat perekonomian mereka, misalnya dipakai untuk modal usaha, atau mereka diberikan alat kerja sehingga mereka bisa terangkat kehidupannya menjadi lebih baik.
Sumber izisindosat.com Sedangkan revitalisasi zakat dapat difungsikan dengan sebenarnya yang mengacu kepada esensinya. Pemahaman fikih yang baik sangat diharapkan dan pemahaman lapangan yang matang, kedua hal tersebut dapat menunjang perberdayaan yang baik dan akhirnya manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat yg membutuhkannya. Wallahu a'lam
 

BEZ News Letter