SANG PENGANTAR KEHIDUPAN
Written by swadaya   
Monday, 05 August 2019 16:41

Melihat ambulance, persepsi kita selalu menuju kepada kematian. sirine yang berbunyi keras meraung-raung itu memecah keheningan suasana hati, menjadi pilu karena rintihan yang memilukan itu keluar dari mobil duka bernama ambulance. Rasulullah SAW mengingatkan kita akan sebuah nasehat. yakni, 

Sebuah anjuran agar kita senantiasa mengingat kematian. karena kematian juga bagian yang paling ampuh untuk mengukur kecerdasan. sebab berpikir akhir dan setelah yang akhir, merupakan cara berpikir orang-orang visioner.

Beberapa hari lalu, persepsi soal ambulance sebagai mobil yang membawa kabar duka, berubah seketika di klinik insani sore itu. ya, bagaimana tidak, ambulance itu tiba-tiba berhenti di depan klinik sambil membawa seorang perempuan dengan perut besar mengaduh kesakitan. ia tak sendiri, namun diiringi beberapa orang yang turut berdebar jantungnya. tak salah lagi, perempuan itu tengah membawa kehidupan baru melalui makhluk mungil bernama "bayi" yang akan segera lahir ke muka bumi.

"Kami in ikeluarga tidak mampu, Pak. Jadi kalau ada yang membantu seperti in irasanya senang sekali. anak ini semangat kehidupan kami, Pak. terima kasih kepada ibu bidan dan pak Syakrin yang telah membantu kami untuk melakukan persalinan  dengan cuma-cuma. hanya Allah yang bisa membalas jasa kalian" ungkapnya usai menjalani proses melahirkan.

Dari senyum ibu bidan dan pak Syakirin, Sang Penghantar Kehidupan, akhirnya bayi yang telah lama bersemayam dalam perut ibunya itu kini telah berani membuka mata dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Ternyata ambulance juga peka terhadap nuansa kehidupan. seperti kalimat menarik dari pepatah negeri sakura. "Daun yang gugur bukan tanda kematian, namun pertanda pupuk yang dapat menghidupan tunas-tunas baru". 

sekali lagi, terima kasih, kepada engkau Sang pengantar kehidupan.  

Last Updated ( Monday, 05 August 2019 17:10 )
 

BEZ News Letter