IMAN DAN ISTIQOMAH
Written by swadaya   
Tuesday, 03 September 2019 11:20

Gambar mungkin berisi: teks

 

Berbicara soal iman dan istiqomah, kita langsung terbawa kepada hadits ke 21 dalam hadits arbain Imam Nawawi,

 

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Kemudian perhatikan ayat-ayat berikut ini :

 

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

 

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu“(QS. Fushilat: 30).

 

Dalam kitab tafsir disebutkan bahwa ketika mereka diberi kabar gembira dengan memperoleh surga maka mereka berkata, “Bagaimana halnya dengan anak-anak kami, apa yang mereka makan dan bagaimana pula keadaan mereka sesudah kami?” Lalu, dikatakan kepada mereka “kamilah walimu dalam kehidupan dunia dan akhirat.” Maksudnya, kami (Allah) yang akan mengatasi urusan mereka sesudah kamu. Dengan demikian, hati mereka menjadi tenang.

 

Istiqhomah adalah sebuah tingkatan yang paling sempurna, barangsiapa yang meraihnya maka akan mendapatkan kebaikan, barangsiapa yang tidak istiqomah maka akan hilanglah tujuannya. Istiqomah merupakan jalan menuju jalan yang lurus, ia merupakan agama yang lurus dan tidak bengkok kekiri dan ke kanan, ia akan selalu ta’at baik lahir maupun bathin, dan menjauhi semua yang telah dilarang.

 

1. Istiqomah Hati.

Pokok istiqomah adalah istiqomah hati terhadap tauhid. Sedangkan ketauhidan menancap dalam hati yang bersih lagi suci.

 

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka memelihara hati dalam keimanan yang kuat, adalah kunci pertama untuk menguatkanb keistiqomahan.

 

2. Istiqomah lisan.

Sesuatu yang paling besar untuk dijaga keistiqomahannya dari amalah badan setelah hati adalah lisan, karena ialah yang menerjemahkan dan mengungkapkan apa yang ada dalam hati.

 

“Jika anak keturunan Adam berada di pagi hari, seluruh organ tubuh tunduk kepada lidah dengan berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jallapada kami, karena kami bersamamu. Jika engkau istiqâmah, kami juga istiqâmah. Jika engkau menyimpang, kami juga menyimpang.” (HR. Tirmidzi)

 

Wallahu a’lam.

 

*) Dari berbagai sumber


Last Updated ( Tuesday, 03 September 2019 11:25 )
 

BEZ News Letter