JANGAN LEMAH DAN SEDIH
Written by swadaya   
Friday, 04 October 2019 15:11

Ada istilah yang cukup popular di kalangan para pecinta. Yakni “menangis adalah tanda kelemahan”. Tak sepenuhnya benar, sebab dalam pandangan islam, ada tangis yang justru dianjurkan. Sebagaimana menangisi dosa, memangis meminta kepada Allah. Namun bagaimana jika menangis karena kesedihan?

Tak dapat kita pungkiri bahwa bangsa kita saat ini sedang diselimuti oleh rentetan kesedihan. Bencana alam, kabut asap, bahkan krisis kemanusiaan di Wamena terjadi akhir-akhir ini. Sebagai manusia biasa, menjadi korban dari rentetan ujian itu menimbulkan kesedihan merupakan sebuah hal yang wajar. Sebab memiliki hati dan perasaan. Lalu bagaimana jika kesedihan itu berlarut-larut, hingga membuat kita enggan untuk bangkit dari keterpurukan hati?

Maka perhatikan firman Allah berikut :

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”(QS.Ali Imran:139)

Asbabun nuzul ayat ini, adalah perasaan sedih yang mendalam pasca kekalahan kaum muslimin di perang uhud. Hingga kaum muslimin merasakan kesedihan yang luar biasa karena terbunuhnya Hamzah dan banyaknya pasukan kaum muslimin yang syahid. Bahkan Rasulullah sendiripun mengalami luka patah gigi. Kesedihan itu tak dapat di bendung. Kemudian Allah turunkan ayat tersebut.

Dari peristiwa bedar itu kita dapat mengambil sebuah titik terang, bahwa bersikap lemah kepada keadaan yang membuat enggan untuk bangkit dari terpuruk dan rasa sedih berlarut meratap hingga membuat kita lupa akan kekuasaan Allah, merupakan bagian dari kemaksiatan. Tak boleh bagi seorang muslim.

 

Lantas, bagaimana jika kesedihan itu terus saja melanda hati?
Allah katakan dalam surah At Taubah,

 

“Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Firman Allah tersebut menegaskan bahwa, Allah adalah tempat bersandar yang tidak ada berbanding dengan apapun. Kekecewaan dan kesedihan akibat rasa lemah dalam hati kita, seolah menemukan muaranya. Bahwa semua itu sia-sia, sebab Allah sekali-kali tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Maka adukan semuanya kepada Penguasa semesta.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan,

“Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan: Doanya akan segera dikabulkan, atau akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal.” (HR. Ahmad)

Keluh-kesah, sedih dan pilu saat menghadapi ujian, juga bagian dari ujian itu sendiri. Dimana keimanan dan ketakwaan akan benar-benar digoyahkan dari dalam hati. Berdoa, mengadu kepada Allah, lalu berusaha untuk bangkit dari semua kesedihan itu, merupoakan perkara yang berpahala.

Wallahu a’lam

 


Oleh : Rahmat al Fakir

 


Last Updated ( Friday, 04 October 2019 15:17 )
 

BEZ News Letter