MENCINTAI BAGINDA NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WASALAM
Kamu pernah jatuh cinta? Jika pernah pasti kamu tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Di luar logika bukan? Kamu pasti tahu cerita Laila – Majnun. Kisah heroik paling diluar akal sehat hanya karena cinta.
 
Qais bin Mulawwih (Mulawwah) bin Muzahim bin ‘Adas bin Rabi’’ah bin Ja’dah bin Ka’b bin Rabi’ah, seorang anak yang tampan rupawan. Anaknya orang yang berada. Dijuluki majnun, karena kegilaannya mencintai Laila. Nama lengkapnya adalah Laila binti Mahdi bin Sa’d bin Ka’b bin Rabi’ah. Seorang putri cantik jelita, yang kehitaman rambutnya seperti pekatnya malam. Itulah sebab ia disebut Laila.
 
Saat mencintai Laila, Qais mampu menjinakkan binatang buas di padang pasir, mampu menggerakkan pasukan perang pimpinan ‘amr hanya dengan melihat Qais, juga mampu menghentikan perang dan pertumpahan darah hanya dengan sebuah perkataan.
 
Qais di luar logika. Karena cintanya kepada Laila terhalang orang tua Laila, ia mampu mengasihi penduduk di negerinya Laila tanpa memandang perlakuan apa yang ia lakukan pada Qais sebelumnya, menyayangi hewan dan tumbuhan dari negeri Laila, bahkan mampu berbicara dengan angin untuk menyampaikan rasa cintanya kepada Laila. Hingga ia mampu bersyair dengan syair yang begitu indah lagi mempesonakan alam. Getaran cintanya ini mampu menarik kejahatan menjadi kebaikan, menjadikan keperihan hati menjadi candu kesyahduan. Logika seolah tak mampu berbicara banyak kala cinta mendera Qais dan Laila.
 
Kisah Laila dan Majnun, disadur keberbagai negara dan bahasa seperti Arab, Persia, Turki, Mesir dan bahkan India. Dan ditulis oleh beberapa ulama serta sastrawan besar dunia seperti, Al-Ashmu’I (wafat 215 H), Nizami Ganjavi, Nizam al-Din, (wafat 599 H), Sa’d al-Syirazi (wafat 1291 M) , Abd al-Rahman al-Jami (wafat 1492 M), Amir Khasru al-Dihlawi (wafat 1325 M), Ahmad Syauqi (wafat 1932 M), dan lain-lain.
 
Mencintai baginda Nabi shalallahu alaihi wasalam, juga bagian dari cinta seorang muslim akhir zaman, kepada manusia paling mulia di jagad raya, yakni Rasulullah shalallahu alaihi wasalam.
 
Mencintai baginda Nabi pada umat akhir zaman, tak sama kasusnya dengan Qais dan Laila. Qais bertemu Laila, melihat dengan mata kepalanya. Namun umat akhir zaman tak bertemu Nabi, tak pula melihat Nabi secara langsung. Hanya berdasarkan sirah, hadist, dan berbagai keilmuan lainnya yang menggambarakan siapa Rasulullah. Maka menimbulkan cinta kepada baginda, adalah sesuatu yang di luar logika, danmemerlukan keimanan yang tidak main-main.
 
Dalam hadist riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA, mengisahkan tentang kerinduan Rasulullah kepada umatnya. 
 
“Salam atas kalian wahai penghuni (kuburan) tempat orang-orang beriman. Aku insya Allah akan menyusul kalian. Aku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku.’ Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?’ 
 
Beliau bersabda, ‘Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka (orang-orang beriman) yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.’  
 
Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali orang-orang (beriman) yang datang setelah engkau dari kalangan umatmu?’ Beliau bersabda, ‘Bukankah jika seseorang punya kuda yang sebagian kecil bulunya putih akan mengenali kudanya di tengah kuda-kuda yang hitam legam?’ Mereka menjawab, ‘Ya’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya mereka akan datang pada hari kiamat dengan cahaya putih karena wudhu. Dan aku akan menunggu mereka di telaga.”
 
Kerinduan Rasulullah terhadap kita, umatnya, secara tegas juga disampaikan oleh Imam al-Qusyairi dalam kitabnya ar-Risalah. Dia mengutip riwayat dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW pernah bersabda.”Kapan aku akan bertemu para kekasihku?” 
 
Para sahabat bertanya, ”Bukankah kami adalah para kekasihmu?” Rasulullah menjawab,”Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku. Dan kerinduanku kepada mereka lebih besar.”
 
Rasulullah merindukan umatnya di akhir zaman. Mereka adalah orang yang tak pernah bertemu Nabi, melihat Nabi, namun mereka mencintai nabi sebagaiaman para sahabat mencintai Nabi.
 
Lagi-lagi soal cinta kepada yang dicintai melawan logika. Jika difikir secara manusiawi, bagaimana mungkin seseorang mencintai sesuatu tanpa melihat dan bertemu terlebih dahulu? Namun begitulah cinta. Rasulullah merindukan umat yang tak pernah beliau temui, dan Baginda dicintai oleh umatnya yang tak pula bertemu dengan Nabinya. Tak hidup sejaman dengannya, namun jauh di ujung zaman. Cinta yang bersanding pada keimanan, akan bertemu diatas ketaqwaan. Seklipun raga tiada bersua, namun hati saling bertaut meski waktu dan jarak berbeda generasi.
 
“Salah seorang diantara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna cinta mentaati apa saja kepada yang dicintai, sebagaimana syair arab mengatakan, 
 
“Lau Kana hubbuka shodiqaan  la atho'tahu innal muhibba liman yukhibbu muthi'un”
 
Sekiranya cintamu itu benar, niscaya mentaatinya karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintai. Maka bukti mencintai Nabi, harus dibarengi dengan ketaatan kepada baginda. Dan ketika hati mulai dikuasai rasa cinta, maka ia akan berbunga-bunga lagi berekspresi dengan kecintaannya tanpa mampu dijelaskan dengan kata-kata. Sebagaimana para ulama terdahulu, merasakan sakit karena mendera cinta kepada baginda, lalu sembuh dengan hanya dengan menuliskan syair dan sholawat tanda cinta kepada baginda, seperti syair Burdah, syair Al Barzanji, syair Simtudhuror, dan lain sebagainya.
 
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (al-Ahzab : 56)
 
Wallahu a'lam

 

BEZ News Letter