Jalan Panjang Pemberdayaan UKM
Barangkali semua akan setuju pada sebuah kenyataan, bahwa pelaku usaha pada hari ini, masih didominasi oleh UKM ( Usaha Kecil dan Menengah ). Bahkan, sektor riil ini menjadi sebuah pondasi kokoh penopang kondisi ekonomi Indonesia. Dikala usaha besar tumbang akibat krisis ekonomi 1998 lalu, justru UKM tetap eksis.

Jika kita cermati ternyata survive UKM ini, karena mereka mengandalkan perputaran dananya, dan dengan modal yang relatif kecil sehingga lebih lincah dalam membuat kreasi dan inovasi baru dalam usaha. Sehingga, dampak krisis dapat mereka redam.


Lalu, mengapa UKM ini tidak berkembang? Faktor yang sering muncul adalah mereka kesulitan memperoleh modal kerja. Paling tidak ada dua hal yang menjadikan UKM ini kesulitan mendapatkan modal usaha. Pertama, Belum memahami tentang lembaga – lembaga keuangan yang menyediakan modal usaha dan tata cara pengajuan yang mereka anggap terlalu sulit. Sehingga mereka cenderung masih menggunakan jasa rentenir, yang menjanjikan kemudahan dan kecepatan proses pencairan dana, tetapi dengan bunga yang berat. Nah ini yang menjadi kendala besar usaha bagi UKM, bagaimana akan berkembang usahanya, jika setiap hari modal kerjanya dipotong untuk angsuran pinjaman ke rentenir, dan belum tentu ada laba hari itu.

Kedua, lembaga penyedia jasa keuangan untuk UKM, perlu meningkatkan sosialisasi program dan jasanya terkait layanan untuk UKM. Sebaiknya, lembaga keuangan perbankan dan lainnya, harus bersama berupaya mengedukasi dan mendorong bagaimana informasi peluang permodalan ini, dapat sampai kepada UKM yang mebutuhkan. Unit – unit layanan, dan agen marketing yang langsung bertemu pelaku UKM dapat memberikan edukasi ini. Perbankan dapat juga bekerjasama dengan mitra – mitra lembaga keuangan mikro seperti BMT, Koperasi Syariah dan lembaga sosial yang konsen dengan masalah ekonomi.

Lalu bagaimana peran lembaga zakat dan lembaga sosial dalam hal ini? Hari ini, lembaga zakat dihadapkan sebuah tugas berat, mereka juga menangani permasalahan kemiskinan dampak dari persoalan ekonomi keluarga yang tidak kunjung selesai. Pola pemberdayaan ekonomi keluarga ini menjadi persoalan besar, berimbas terhadap tatanan keluarga, keharmonisan, dan  berujung menjadi permasalahan baru pada kehidupan sosial masyarakat. Efek lanjutan dari persoalan ekonomi keluarga ini, berimbas pada ketidak mampuan memberikan pendidikan dan kesehatan bagi keluarga. Ini sungguh bukan masalah sederhana, namun kita yakin, dapat diurai satu persatu, dan perlu peran serta semua pihak.

Tugas berat ini perlu penyelesaian khusus, Jika tidak ingin menjadi permasalahan kronis ditengah masyarakat. Persoalan ekonomi keluarga ini menjadi mata rantai yang akan selalu kokoh, sebagai penyumbang angka kemiskinan. Lembaga zakat siap menjadi mitra siapapun, semua komponen masyarakat baik dari lembaga keuangan dan UKM sebagai objek program. Bentuk kemitraan dapat dirumuskan dan disusun sedemikian rupa, sehingga dapat berjalan fleksibel untuk memudahkan, sesuai kebutuhan UKM, serta memiliki dampak jangka panjang. Selain itu, pendampingan UKM menjadi kunci sukses sebuah program, hal ini sangat penting, mengingat dalam proses pendampingan ini akan tumbuh keterikatan dan proses edukasi berkelanjutan.

Tentunya, tugas berat ini tidak akan dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, tetapi butuh proses, komitmen bersama, perlu bersinergi, dan saling mendukung. Hasil kesuksesan dalam proses ini, akan berlanjut kepada dampak ekonomi secara umum dan kesejahteraan masyarakat.
 

BEZ News Letter