#GAZAMEMBARA, “MEREKA MEMANGGIL KITA”

Sungguh tiada hati bila mana hati tak ketuk kala menyaksikan pengeboman di Gaza. 26 korban jiwa cukup menjadi alarm bagi kemanusian dan negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia. Penjajah Israel seolah tak memandang entitas muslim terbesar ini sebagai keseganan, justru seolah menari mengejek dengan riang gembira karena ketidak-berdayaan komunitas muslim terbesar ini dalam masalah krisi kemanusiaan Palestina.

Israel tak hanya membunuh warga Gaza, namun mereka memburu dengan tidak berprikemanusiaan. Nyawa menjadi barang obralan disana. Dibuat mainan sebagai pengusir rasa sedih. Di tembak dengan penuh suka cita kala peluru menembus tubuh mungil bocah yang sejatinya telah terluka lahir dan batinnya.

Tak cukup sampai disitu, roket-roket pemusnah dilucurkan pada malam harinya dengan sasaran kota Gaza yang sedang mencekam akibat musim dingin. Dengan dalih memerangi pemberontak pejuang Palestina, Cukup sudah untuk membungkam mulut dunia yang terseok akibat kalah bermain poin.

#GAZAMEMBARA kembali setelah serangan di malam buta itu. Ketika perjanjian gencatan senjata antara kedua belah pihak tersepakati dan belum berakhir, malam itu telah berakhir tanpa mempedulikan perjanjian. Penjajah tetaplah penjajah. Dimana-mana yang namanya penajajah selalu ingkar pada janjinya dahulu.

Gaza antara hidup dan mati. Langitnya kini membara lagi. Ketika manusianya sedang bersiap menghadapi pertempuran hidup dan mati melawan dingin, justru penjajah Israel sengaja mengincar moment ini untuk bahan tertawaan dan lelucon.

Terlalu binatang bila kita mengangap semua ini hanya penajajahan biasa.

Seorang bocah berteriak didepan kamera dengan memanggil dunia internasional.

“Ya sayyidi rais, aina anta?”

Semakin pedih ketika Indonesia ikut dipanggil sebagai pemangku harapan mereka gantungkan. Sungguh, terlalu tidak manusiawi bila kita diam membisu tanpa mampu berbuat apa-apa.

Dahulu, bangsa kita meraung merasakan pedih selama 350 tahun di jajah Belanda. Hanya dengan sebuah kabar di radio internasional, negara terjajah itu membantu dan mengakui kemerdekaan kita. Sebuah langkah paling heroik sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia. Bangsa yang terluka, mampu menarik tangan bangsa yang ingin merdeka pula menjadi merdeka. Kini, negara heroik itu tengah menghulurkan tangannya kepada kita. Indoensia.

“Mereka memanggil kita, Indonesia”

Ku mohon, jangan diam.

 

BEZ News Letter