Zakat Dan Ketentraman Jiwa
Oleh  Dwi Purwanto

Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman, “ Dan dirikanlah Sholat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”, (Q.S. Al Baqoroh : 110)

Bagi orang-orang yang beriman, paham betul bahwa perintah zakat sama pentingnya dengan perintah sholat. Bagi orang-orang yang bertakwa mengetahui dan memahami dengan baik bagaimana ia menempatkan dirinya sebagai Hamba Allah Swt yang sejati. Berawal dari pemahaman yang baik tentang dinul Islam ini, maka seorang hamba itu dapat merealisasikan hubungannya dengan Allah SWT (hablulminnallah) dan merealisasikan hubungannya dengan manusia (hablulminnas) secara tepat dan penuh kearifan.

Bahwa bangunan Islam itu terdiri lima yang menjadi pilar penting yaitu bersyahadat di hadapan Allah Swt, Menunaikan Sholat Lima waktu sehari semalam, bershiyam (berpuasa) di Bulan Suci Ramadhan, menunaikan Zakat serta menunaikan haji bila mampu. Bangunan Islam ini tidak akan berdiri kokoh bilamana rukun Islam tersebut tidak tegakkan. Artinya bila ada salah satu dari Rukun Islam tersebut ditinggalkan maka sama artinya dengan merobohkan bangunan Islam itu sendiri.

Oleh karena itu perintah zakat, pada kepemimpinan Abu Bakar Asshidiq menjadi perhatian yang sangat serius, karena ketika itu ada diantara Umat Islam yang enggan membayar zakat, yang olehnya akan diperangi bagi mereka yang enggan membayar zakat.

Zakat adalah ibadah yang memiliki dua dimensi yaitu dimensi meneggakkan syariat Allah Swt dan dimensi sosial, dimana setiap jiwa manusia saling membutuhkan satu sama lain. Islam mencakup ruang lingkup ibadah, sosial, ekonomi dan nilai-nilai universal lainnya.

Di era modernisasi sekarang ini, umat manusia sedang dilanda bencana spritualitas. Dimana nilai-nilai Robbaniyah tidak lagi bersama aktifitas manusia itu. Orientasi materialisme telah membuat manusia jauh dari Allah Swt. Akhirnya manusia berada dalam kebimbingan hidup, kegelisahan jiwa, dan kekacauan pikiran. Inilah yang disebut split personality (pribadi yang terpecah-pecah jiwanya).  

Lalu apa kaitannya dengan perintah zakat, bahwa perintah zakat sangat berkorelasi dengan ketentraman jiwa seseorang secara individu maupun kolektif. Syiar tentang zakat tidak semarak ibadah-ibadah lainnya dalam Islam, bahkan nyaris pengetahuan tentang zakat pun, tidak semuanya memahami. Sebatas dipahami masalah zakat fitrah yang dikeluarkan di akhir-akhir Ramadhan.

Bila kita dapati pada diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita sebuah kegoncangan jiwa yang sangat hebat, maka muhasabahlah (interopeksi diri) jangan-jangan ada hak orang lain dari harta yang kita miliki belum kita keluarkan zakatnya. Atau kita lupa menghitung zakat kita, karena kesibukan pekerjaan kita. Atau kita tidak tepat dalam menghitung zakat kita sehingga antara kekayaan yang melimpah ruah yang dikaruniakan Allah Swt tidak sesuai dengan zakat yang harus dibayarkan   sebagaimana dalam ketentuan Agama Islam. Maka dalam kesempatan yang lain saya pernah melayani seorang calon muzakai (pembayar zakat) setelah saya hitung sesuai dengan kekayaannya, luar biasa zakat yang harus dikeluarkan jumlahnya lumayan besar, namun orang ini ingin mengeluarkan zakatnya dengan nilai yang kecil, karena menurut dia inilah zakatnya. Inilah fenomena bahwa zakat belum dipahami secara baik oleh Umat Islam itu sendiri. Tentu saja banyak factor, factor keimanan dan keyakinan kepada Allah Swt pemicunya. Selama saya berkecimpungan di dunia perzakatan lebih kurang 7 tahun, saya belum pernah mendapati orang yang bayar zakat kemudian esoknya ia menjadi miskin dan gundah gulana.

Justru mereka yang membayar zakat sebagaiman yang diperintahkan Allah Swt, mereka mendapatkan ketentraman jiwa, karena hak orang lain sudah dikeluarkan, mereka mendapat barokah, usaha-usaha pembayar zakat menjadi tumbuh berkembang dengan pesat dan hati mereka menjadi hati-hati penyantun dan lembut.

Karena makna zakat adalah mensucikan jiwa para pembayar zakat, dari sifat-sifat kikir, tamak, rakus, serakah, zholim kepada sesamanya. Suci lahir dan batin, akhirnya Allah Swt memberikan kententraman kepada mereka, mereka tidak khuatir, gelisah,cemas sedikitpun dengan kekayaannya, karena dalam kekayaannya telah dikeluarkan zakatnya. Makna zakat yang lain adalah “membuang kotoran” yang bukan hak kita, tetapi hak kaum dhuafa. Bayangkan kalau zakat tidak dikeluarkan bahkan secara sengaja kita tidak mengeluarkan, maka “kotoran-kotoran” itu sudah tertimbun sampai puncaknya, yang menyebakan jiwa tidak merdeka, terbelenggu dengan hawa nafsu dan mengabaikan persaudaraan seiman. Dan makna lain dari zakat adalah ia tumbuh dan berkembang, sudah terbukti berkahnya zakat untuk manfaat yang lebih luas bagi orang-orang miskin. Seperti dari zakat telah berdiri Rumah Bersalin Insani dan Balai Pengobatan bebas biaya bagi kaum dhuafa, dari zakat ratusan beasiswa diberikan untuk menunjang pendidikan kaum dhuafa serta dari zakat telah berkembang usaha-usaha mikro milik mustahiq.

Maka dari itu saya menghimbau kita semua segera menunaikan zakat, jangan menundanya karena kita tidak tahu kapan akhir usia kita. Zakat hukumnya wajib, tidak tergantikan dengan infaq, sedekah dan lainnya.  Dengan membayar zakat menjadi bukti ketakwaan kita di hadapan Allah Swt.
 

BEZ News Letter