LAUT YANG GELISAH
Bercerita soal laut, Indonesia memiliki cerita suram tentangnya. Bangsa kita tercinta ini, pernah merasakan 7 peristiwa tsunami yang membuat kelam dan kesedihan. Diantaranya adalah Tsunami Sulteng (10/8/1968), Tsunami Sumba (19/8/1977), Tsunami Flores (12/121992), Tsunami Banyuwangi (3/6/1994), Tusnami Kepulauan Banggai (9/5/2000), Tsunami Aceh (26/12/2004), Tsunami Pangandaran (17/7/2006).

Ada sebuah hadist, yang memberikan kabar tentang bagaimana keadaan laut dalam kesehariaannya.

Dari Umar bin Al-Khathab –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

“Tidak ada satu malam-pun, kecuali di dalamnya lautan mendekat ke bumi tiga kali, meminta ijin kepada Allah untuk menenggelamkan mereka. Maka Allah -Azza wa Jalla- menahannya.” (HR. Imam Ahmad)

Di dalam hadist itu memberikan khabar kepada kita, bahwa ternyata laut setiap harinya ingin menenggalamkan daratan. Ada apa dengan laut?

Menurut Syeikh Ali Jaber, lautan merasakan kekecewaan kepada manusia yang hidup di atas daratan, terlalu banyak berbuat maksiat. Mereka lalai untuk menyembah Allah. Mereka lalai pada kewajiban mereka sebagai makhluk yang Allah ciptakan. Padahal Allah berfirman :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Allah menciptakan manusia untuk menyembah kepada-Nya. Bukan menyekutukan pada perkara-perakara yang msyrik, membuat tandingan, dan berleha dalam kebungan kemaksiatan. Allah ciptakan manusia bukan pula hanya untuk makan dan minum, tidur dan buang air.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115)

Ketika lautan meinta izin kepada Allah, Allah menahan amarah laut dengan mengatakan bahwa di daratan masih ada hamba Allah yang beriman.

Peristiwa air laut menghabiskan seluruh umat manusia di muka bumi ini pernah terjadi pada zaman Nabi Nuh. Seluruh daratan ketika itu ditenggelamkan dan hanya umat Nabi Nuh saja yang naik kapal yang selamat dari bencana tersebut.

Allah menenggelamkan seluruh umat manusia ketika itu karena mereka sudah banyak melakukan perbuatan dosa dan banyak merusak alam. Mereka tidak mau menyembang Allah dan membangkang pada Nabi Nuh. Karena itulah Allah memerintahkan air untuk menenggelamkan semua manusia kala itu.

“Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS: Al-Qashash: 59).

Bagaimana derajat hadits tentang laut meminta izin 3 kali sehari tersebut?

Menurut ustad Abdullah al Jirani, Hadits ini secara sanad dhaif. Dari mana kelemahannya? Yaitu dari Guru dari Al-‘Awwam bin Hausyab seorang rawi yang majhul, Abu Shalih maula Umar bin Al-Khathab juga majhul. (Tahqiqul Musnad : Syaikh Syu’aib Al-Arnauth Rahimahullah).

Namun, jumhur ulama’ berpendapat bolehnya menyampaikan atau mengamalkan hadits dhaif dalam bab zuhud, raqaiq, targhib dan tarhib, adab, keutamaan amalan, hukuman, dan yang semakna dengan hal ini. Adapun dalam bab selain itu, seperti dalam perkara hukum halal-haram dan masalah aqidah, maka tidak diperbolehkan.

Artinya, hadist ini boleh digunakan dan boleh diamalkan karena tidak menbahas perkara hukum halal-haram dan aqidah.

Wallahu a’lam.
 

BEZ News Letter