BERKATA BAIK, ATAU MENCACI MAKI?

Dahulu, Ibnu Abbas RA mengatakan: “Pada mulanya umat Islam berkata Raa’ina kepada Rasulullah saw sebagai permohonan dan keinginan untuk mendapat perhatian. Raa’ina memiliki arti yaitu “Perhatikanlah kami!”

Namun kata “Raa’ina” diplesetkan oleh kaum yahudi, menjadi kata “Ruu’una” yang berati bodoh sekali. Dan poerkataan ini mereka tujukan untuk Rasulullah kemudian dibarengi dengan tawa mengejek.

 

ketika Sa’ad bin Mu’adz mendengar ejekan itu, mukany amemerah dan mengatakan dengan tegas, “Semoga Allah melaknat kalian, sungguh jika aku mendengar ejekan itu lagi ditujukan untuk Rasulullah, aku akan penggal leher kalian”. Mendengar bentakan Mu’adz, Kaum Yahudi tak pula tinggal diam. Dengan keyakinan kemenangan retorika, mereka menjawab: “Bukankah kalian juga mengatakan Raa’ina?”.
Setelah peristiwa itu, Allah Subhanahu Wa ta’ala menurunkan ayat berikut :

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih” . (Al-Baqarah:104)

Ibnu Katsir berkata: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman menyerupai kaum kafir, baik dalam ucapan ataupun dalam perbuatan, karena kaum Yahudi mencermati ungkapan yang dapat diputarbalikkan maksudnya. Ketika mereka ingin berkata, “Isma’ lana” (dengarkanlah kami), maka kata “Raa’ina” mereka plesetkan menjadi “Ru’unah” yang berarti kebodohan yang sangat”.

Dikasus yang lain, kaum begitu banyak kaum Yahudi memplesetkan maknda kalimat sejenis, dengan ucapan yang menyerupai kalimat itu. Misalnya ketika sahabat memberikan salam “Assalamu’alaikum”, Yahudi memplesetkan kalimat mulia ini menjadi “Assamu’alaikum” yang berarti kecelakaan bagi kalian.

Ini dalil untuk orang beriman agar menyudahi perkataan yang buruk, diantaranya adalah maki-makian. Karena berkata buruk atau memaki, merupakan kebiasaan orang-orang yahudi. Barang siapa yang mengkiuti suatu kaum, ia termasuk dalam kaum itu. Tentu kita tak ingin dibangkitkan bersama golongan orang-orang yang terbiasa memaki dan berkata-kata kotor.

“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas,” (QS. Al-Isra’: 28).

Demikian Allah katakan agar umat muslim senantiasa berkata baik dan berkata yang pantas. Berkata yang baik menjadi bentuk sedekah bagi kaum muslimin. Sebagaimana Rasulullah mengatakan :

“Tidak ada sedekah yang paling utama selain ucapan yang baik” (HR Al-Baihaqi). Pada hadis yang lain, Beliau SAW juga bersabda, “Tidak ada sedekah yang paling dicintai oleh Allah, selain ucapan yang baik.” (HR Al-Baihaqi).

Pernah seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah orang Muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tidak mengganggu Muslim lainnya dengan lisan (ucapan) dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.


 

BEZ News Letter