HARI ESOK, PASTI TERJADI. SUDAH SIAP?
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Dalam tafsir Ath-Thabari, Qatadah mengatakan bahwa bahwa yang dimaksud hari esok dalam ayat itu adalah hari akhir (kiamat)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Haasibu anfusakum qobla an tuhaasabu. Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab”.
Banyak ulama ahli tafsir ketika menafsirkan ayat tersebut dengan penafsiran persiapan amal untuk hari kiamat. Mereka memperingatkan agar kita senantiasa menghisab diri tentang amalan apa yang telah kita persiapkan dengan baik untuk menyambut hari akhirat? Jika dibandingkan dengan amal buruk, mana yang lebih dominan?

Dalam surah al Zalzalah, Allah mengatakan :

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

Betapa mengerikannya hari akhir yang Allah khabarkan melalui surah Al Zalzalah tersebut. Dengan kejadian yang mengerikan itu, Allah pesankan kepada seluruh hamba-Nya, setiap perbuatan sekecil apapun akan menerima balasan di hari esok (akhirat)

Artinya, dalam menempuh kehidupan dunia, maka orientasi kita seharusnya bukan lagi dunia. Setiap perbuatan, hendaknya dimulai dari akhir. Yakni dengan menetukan goal terlebih dahulu.

Sebagai orang beriman, tentu idealnya memilih goal dengan surga sebagai tujuan. Mempersiapkan setiap aktivitas yang akan dilalui, hendaknya dengan niatan bahwa smua bernilai ibadah.

Dalam Syarh Muslim, Imam An-Nawawi mengatakan :

“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah taala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).”

Perkataan Imam Nawawi ini berlandaskan dari hadist Rasulullah, dari Umar bin Khattab :

“Sesungguhnya semua amalan itu dikerjakan dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Cara mendapatkan pahala dari aktivistas keseharian, adalah dengan meniatkan semua aktivitas mubah (makan, minum, bekerja, hubungan suami-istri, dll) dengan menyertakan Allah setiap memulainya. Adapun mencari nafkah, merupakan sebuah kewajiban yang bernilai ibadah. Namun tetap dengan niat karena Allah.

“Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi)

Berdasarkan hadist diatas, menjalani hidup didunia yang paling ideal adalah dengan orientasi akhirat. Agar di hari esok yang telah Allah janjikan, menuai hasil yang manis.

Wallahu a’lam.

 

BEZ News Letter