DAHSYATNYA PANAS MAHSYAR TAK TERBAYANGKAN! KITA BUTUH NAUNGAN SEDEKAH
Setiap kehidupan akan mengalami akhir. Begitu pun dunia ini. Kiamat pasti kelak akan mengakhiri narasi kehidupan di alam semesta. Ketika itu terjadi, semua manusia digiring dalam satu tempat yang disebut Padang Mahsyar.

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam mengatakan,

“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain, Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, 

“Pada hari kiamat manusia akan berkeringat hingga mengalir sejauh tujuh puluh hasta, dan akan menenggelamkan mereka hingga mencapai telinga mereka,” (HR. Bukhari).

Ketika menanggapi hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitab Fathul Bari, 

“Barangsiapa yang memperhatikan kondisi tersebut niscaya ia akan mengetahui betapa besarnya kegoncangan pada hari itu, di mana neraka mengelilingi tanah padang mahsyar dan matahari didekatkan sekiitar satu mil jaraknya dari kepala manusia, maka bagaimanakah kondisi panasnya bumi saat itu? Dan keringat apa yang mengalir pada padang sahara hingga mencapai tujuh puluh hasta? Padahal setiap manusia tidaklah mendapatkan tempat kecuali sebatas tanah untuk menginjakkan kedua kakinya, maka bagaimanakah kondisi manusia saat itu dengan keringat dan peluh mereka padahal berbeda-beda kadar peluhnya? Sesungguhnya hal ini adalah suatu perkara yang membuat akal terkesima dan menunjukkan akan besarnya kekuasaan,”

Pada saat itu, manusia kepanasan luar biasa. Mereka sangat memerlukan payung untuk bernaung dari dahsyatnya panas Mahsyar. 

Nah, kalau sudah begitu, bagaimana cara kita agar bisa mendapatkan naungan Allah kelak di padang mahsyar?

Dari Uqbah bin Amir r.a. berkata, saya telah mendengar 
Rasulullah saw. bersabda, “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya hingga manusia diadili (oleh pengadilan Allah),” atau beliau bersabda, “Hingga keputusan di antara manusia ditetapkan (oleh pengadilan Allah),” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Ternyata salah satu hal yang membuat naungan para penghuni Padang Mahsyar adalah pelaku sedekah. Sedekah yang ia keluarkan dari saku celana, menyisihkan sebagian harta yang ia kumpulkan menjadi penyelamatnya di akhirat kelak.

Sedekah seperti apakah yang menjadi naungan di Padang Mahsyar kelak?

Dari Abu al-Khair (salah seorang perawi hadits riwayat Ibnu Khuzaimah tersebut) berkata,

“Tidaklah suatu hari dilewatinya melainkan dia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sepotong kue atau sebutir bawang.”

Artinya sedekah apapun yang kita keluarkan, akan menjadi naungan dari panasnya Mahsyar. Tak penting besarnya. Asal ikhlas lillahi ta’ala, in Sya Allah bermanfaat.

Allah Ta’ala berfirman,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5).

Sementara itu, sedekah yang dikeluarkan atas dasar riya’ (gila pujian) tidaklah dipedulikan oleh Allah. Dalam hadits qudsi disebutkan,

“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim).

Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid mengatakan, “Tidak mungkin dalam hati seseorang menyatu antara ikhlas dan mengharap pujian serta tamak pada sanjungan manusia kecuali bagaikan air dan api.”

Siapa saja sebenarnya yang berhak mendapatkan naungan di Padang Mahsyar? Sebagaimana sabda Baginda Nabi Shallahu alaihi wasalam, 

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata.

1. Imam (pemimpin) yang adil.

2. Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.

3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.

4.  Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.

5. Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah.”

6. Seseorang yang beredekahh lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.

7.   Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam
 

BEZ News Letter