MENGASIHI ANAK YATIM, SIAPAKAH ANAK YATIM?

Disebuah acara santunan anak yatim, santunan diberikan dalam bentuk barang dan uang tunai. Umurnya pun beragam, mulai dari usia 3 tahun, sampai usia sekolah menengah atas. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan bagi beberapa jamaah. Berapakah usia anak yatim itu?

 

Kata Yatim merupakan bahasa Arab yang berasal dari kata fi’il. Yatim disebutkan sebanyak 23 kali dalam Al-Qur'an yaitu 8 dalam bentuk tunggal, 14 dalam bentuk jamak dan 1 dalam bentuk dua (mutsanna).

 

Dalam istilah ahli fikih dan ulama bahasa Arab berpendapat bahwa yatim berarti seseorang yang ayahnya wafat, sedang usianya belum baligh. Apabila yang meninggal ibunya, maka anak tersebut disebut piatu. Jika ditinggal kedua sebelum baligh, disebut anak yatim-piatu.

Usia baligh, memiliki tanda baik yang tampak oleh mata, maupun yang tidak tampak. Diantara tanda-tanda anak yang telah memasuki usia balighj adah sebagai berikut :

 

 1. Keluarnya mani karena mimpi basah

 

Keluarnya air mani karena mimpi basah, merupakan tanda yang paling kuat. Adapun dalilnya,


“Diangkatlah pena (dosa) dari tiga golongan: (1) orang yang tidur hingga ia bangun; (2) anak kecil hingga dia ihtilaam; (3) dan orang gila hingga dia berakal (sembuh).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

 

2. Tumbuhnya bulu kemaluan

 

Secara fisik, ditandai dengan tumbuhnya bulu halus di daerah kemaluan.

 

“Pada perang bani Quraizhah, kami dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, orang-orang yang telah tumbuh bulu kemaluannya dibunuh, sementara orang-orang yang belum tumbuh bulu kemaluannya dibiarkan hidup. Dan aku termasuk orang-orang yang belum tumbuh bulu kemaluannya, maka aku pun dibiarkan.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

 

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

 

“Adapun al-inbaat, yaitu tumbuhnya rambut kasar di sekitar dzakar laki-laki atau farji wanita, yang hendaknya dibersihkan dengan pisau cukur. Adapun bulu-bulu halus, maka tidak dianggap. Bulu halus ini biasanya sudah tumbuh pada masa anak-anak. Inilah yang menjadi pendapat Imam Malik, dan juga Imam Asy-Syafi’i dalam salah satu pendapatnya.” (Al-Mughni)

 

 

3. Berusia 15 tahun

 

“Telah menceritakan kapadaku Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia pernah menawarkan diri kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut dalam perang Uhud. Saat itu umurnya masih empat belas tahun, namun beliau tidak mengijinkannya. Kemudian dia menawarkan lagi pada perang Khandaq. Saat itu usiaku lima belas tahun dan beliau mengijinkanku.” Nafi’ berkata, “Aku menemui ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Saat itu dia adalah khalifah, lalu aku menceritakan hadits ini. Dia berkata, “Ini adalah batas antara anak kecil dan orang dewasa (baligh).” Kemudian dia menulis kepada para gubernurnya untuk membebani kewajiban bagi mereka yang telah berusia lima belas tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

4. Keluar darah haid, bagi wanita

 

Haid merupakan tanda baligh khusus bagi wanita, tanpa ada perselisihan di antara para ulama.

 

Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Allah tidak menerima shalat wanita yang mengalami haid, kecuali dengan memakai kerudung.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

 

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

 

“Adapun haid, itu adalah tanda baligh, kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini.” (Al-Mughni)

 

 
Dari uraian di atas, maka telah jelas bahwa usia anak yatim mau pun piatu, hanya sampai pada usia baligh. Dengan tanda sudah bermimpi basah, timbuh rambut di kemaluan, telah genap berusia 15 thaun, dan bagi perempuan telah datang masa haid.
 
Rasulullah mengatakan :

 

 

"Tidak lagi disebut yatim anak yang sudah bermimpi (baligh)." (HR. Abu Daud).

 

Al-Qur'an secara tegas mengatakan anak yatim merupakan anak yang harus dikasihi, dipelihara dan diperhatikan.

 

Allah berfirman :

 

"Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah "Memperbaiki keadaan mereka adalah baik," (QS. Al-Baqarah : 220)

 

Dari dalil diatas, Allah memerintahkan agar kita sebagai orang dewasa hendaknya memperlakukan anak yatim dengan baik, menjaga, serta memelihara dengan penuh kasih sayang. Terkadang memang anak yatim terlihat lebih hyper-aktif, sering membuat jengkel, dan kadang mencari perhatian dengan cara-cara yang diluar dugaan. Namun ketahuilah, bahwa semua itu adalah ujian bagi orang yang memeliharanya.

 

“Dan ujilah anak-anak yatim sampai mereka mencapai usia nikah (baligh). Apabila kalian menemukan kecerdasannya maka serahkanlah harta-harta itu kepada mereka.“Dan janganlah kalian memakannya dengan berlebih-lebihan dan jangan pula kalian tergesa-gesa menyerahkannya sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (dari kalangan wali anak yatim itu) berkecukupan, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim) dan barangsiapa yang miskin maka dia boleh memakan dengan cara yang baik. Apabila kalian menyerahkan harta-harta mereka, maka hadirkanlah saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas.” (QS. An-Nisa: 6).

 

 
Wallahu a'lam

 

 

BEZ News Letter