RUMAH YANG SEBAIK-BAIK RUMAH, BAGAIMANA CARANYA?

Sudah sangat familiar ketika membincangkan soal rumah, kalimat “Baiti Jannati” begitu masyhur di tengah masyarakat. Rumahku-surgaku menjadi konsep ideal yang banyak didambakan oleh masyrakat.
 
 

Kalau Begitu, Apa Itu Rumah?

 

Rumah, merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Allah ta’ala berfirman,

 

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl : 68)

 

Kemudian ayat berikut.

 

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml : 18)

 

Kedua ayat tersebut pernah dikutip seorang guru dalam mendefinisikan rumah. Kata beliau, rumah itu tempat yang paling nyaman untuk bermalam, berlindung, melepas penat, mentarbiyah (mendidik keluarga) dan menghadirkan kenyamanan. Andai rumah tak menghadirkan semua itu, maka rumah tersebut seperti sauna yang begitu panas.

 

 

Bagaimana Rumah Yang Baik Itu?

 

 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
 
”Sebaik-baik rumah kalian, rumah di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan.” (HR. Abu Nu’aim)
 

 

Memuliakan anak yatim, termasuk di dalamnya memperlakukan dengan kelembutan, memuliakan, menginfaqi, memberikan makan, mendidik dan selainnya. Adapun yatim adalah anak yang telah ditinggal wafat oleh ayahnya meskipun ia memiliki ibu. (Faidh Al Qadir, 3/484)

 

Dalam hadist lain, dikatakan sebagai berikut.

 

“Sebaik-baik rumah kaum muslimin adalah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jelek rumah dikalangan kaum muslimin adalah yang didalamnya terdapat anak yatim, dan ia diperlakukan dengan buruk” (HR. Ibnu Majah)

 

Kedua hadist di atas memberikan informasi kepada kita bahwa rumah yang baik adalah rumah yang terdapat anak yatim. Tak hanya itu saja,namun juga memperlakukannya dengan sangat baik. Sedangkan rumah yang buruk, merupakan kebalikan dari hal diatas.

 

 

Mengapa Harus Anak Yatim?

 

Dalam Alquran, Allah ta’ala berfirman,

 

”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS Al-Ma’un : 1-3).

 

Muncul pertanyaan di dalam benak kita. Mengapa orang yang menghardik anak yatim dikatakan sebagai pendusta agama?

 

Hal ini tak terlepas dari pribadi seorang Rasul junjungan alam. Rasulullah dilahirkan dalam keadaan yatim, lalu diusianya yang baru belia harus kehilangan ibunya pun masih dalam status anak yatim. Saat beliau dalam keadaan yatim tidak ada seorang pun peduli terhadap beliau, kecuali keluarganya sendiri. Perlakuan semena-mena terhadap anak yatim dan tidak adanya kepedulian kepada fakir miskin merupakan sebab utama manusia tergolong sebagai pendusta agama.

 

Disamping itu, memelihara anak yatim, memperlakukannya dengan baik, kelak telah Rasulullah janjikan akan bertetangga dengan Baginda shalallahu alaihi wasalam di surga Allah.

 

 

Wallahu a’lam.

 

 

BEZ News Letter