Membangun Sinergi dalam World Zakat Forum
Refleksi Tri Wulan I  pada World Zakat Foum, Yogyakarta 2 Oktober 2010

    Tingkat kemiskinan yang masih tinggi pada negara – negara muslim yang belum dapat diselesaikan dengan instrumen Zakat ummat Islam yang ada dan terkumpul oleh lembaga pengelola zakat, menjadi alasan digagasnya World Zakat Forum ( WZF ) di Yogyakarta 28 September sampai 2 Oktober 2010. Hal lain yang juga mendasari forum ini adalah maraknya lembaga – lembaga dan organisasi pengelola zakat yang tumbuh dan melakukan aktifitas program zakat namun belum dapat mengentaskan kemiskinan secara signifikan.

Membangun sebuah peradaban zakat pada level internasional menjadi cita – cita para penggerak dan aktivis zakat seluruh dunia, tidak terkecuali para aktivis zakat di indonesia. Sinergi pengelolaan zakat menjadi pembahasan yang menarik dalam World Zakat Forum yang bertema  “ Meneguhkan Peran Zakat dalam Mewujudkan Kesejahteraan Ummat melalui Jejaring Zakat Internasional”. Pada WZF dihadiri lebih dari 150 lembaga pengelola zakat dari dalam dan luar negeri. Sinergi menjadi sebuah keniscayaan pada era perzakatan dewasa ini. Sebuah lembaga zakat saat ini tidak akan mampu melakukan kerja – kerja besar pengentasan kemiskinan secara parsial dengan mengandalkan kemampuannya sendiri. Ditambah lagi dengan faktor – faktor penyebab meningkatnya angka kemiskinan yang kompleks.

Menurut H.Tulus sekjen Dewan Zakat MABIMS ( Malaysia, Brunai Darussalam, Indonesia dan Singapura ), faktor kemiskinan terbanyak saat ini disebabkan  rendahnya pendidikan, lemahnya keahlian ( Skill ), dan Kurangnya modal.

Upaya penanggulangan kemiskinan tentunya diawali dengan analisa faktor penyebab dan dilakukan upaya penanggulangannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan bersama oleh lembaga – lembaga pengelola dan aktivis zakat adalah Pertama, Memberikan penguatan pendidikan kepada kelompok – kelompok sosial ekonomi rendah. Pada kenyataannya kantong – kantong daerah dan kelompok kemiskinan yang ada dapat dipastikan memiliki pendidikan rendah. Sehingga perlu dilakukan secara fokus pendampingan pendidikan secara komunitas melalui pelatihan, membangun unit pendidikan dan memberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi.

Kedua, Pemberdayaan lulusan Sekolah / Madrasah yang berketrampilan. Pada umumnya madrasah ataupun sekolah kejuruan memiliki siswa dengan kemampun skill dasar seperti otomotif, pertanian, peternakan dan lainnya. Kemampuan dasar ini dapat diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan umum masyarakat dan kebutuhan pasar pada sektor pertanian dan peternakan, dengan memberikan modal kerja dan pembinaan melaui pelatihan wirausaha dan lain sebagainya.

Ketiga, Menggerakan Usaha Kecil. Dengan dana zakat yang ada, maka pelaku usaha kecil dapat diberikan modal sebagai pengembangan usahanya. Dengan semakin banyak usaha kecil yang berkembang dengan dana zakat ini, maka diharapkan dapat terbentuk jaringan perekonomian ummat dan pusat – pusat bisnis. Sehingga dapat dibentuk kehidupan ummat yang berkualitas, bertakwa dan memiliki pola pikir yang islami. Hal ini akan terwujud jika pemberdayaan usaha kecil berbasis pasar, dibantu permodalan dengan membangun komunikasi dengan lembaga keuangan seperti BMT,BPRS dan Perbankan syariah, serta diberikan pelatihan managemen, kewirausahaan yang berkelanjutan.

Kedepan kita berharap, World Zakat Forum (WZF ) ataupun Forum Zakat ( FOZ ) di Indonesia, dapat menjembatani LAZ / BAZ di Indonesia dalam meningkatkan kemampuan dan kwalitas SDM pengelola dan managemen yang baik danterstandar. Sehingga tugas – tugas mengentaskan kemiskinan dan membentuk ummat berkwalitas secara ekonomi dan kehidupan dapat terwujud.

Harapan sinergi bagi Lembaga Pengelola Zakat ( LPZ ) di Indonesia, masih harus didorong dan membutuhkan komitmen bersama dalam merealisasikannya dilapangan. Hendaknya semakin banyak lembaga pengelola zakat, maka semakin banyak pula mustahik dan fakir miskin yang terbantu serta menjadi mandiri secara ekonomi, luas wawasan dan kuat keimanannya. Amin

Sebuah catatan pada World Zakat Foum, Yogyakarta 2 Oktober 2010
 

BEZ News Letter