MUSLIM YANG KUAT, LEBIH ALLAH CINTAI

Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Kalimat ini menarik sekali untuk renungkan. Apa hubungan antara jasmani yang sehat, dengan jiwa yang kuat?

Dalam Sifatul Akh al Muslimun, Muhammad Isa meletakkan Qawwiyul Jismi sebagai salah satu dari karakteristik muslim yang tangguh. Artinya, kekuatan jasmani yang sehat dan prima, merupan karakteristik yang ideal untuk menjadi seorang muslim. Rasulullah shallahu alaihi wasalam dalam berbagai literasi sirah nabawiyah, jarang sekali mengalami sakit. Terhitung hanya berkisar antara 2-3 kali saja mengalami sakit selama hidupnya. Itupun karena sihir, sakit biasa, kemudian sakit menjelang beliau Allah angkat ruhnya dari raga mulianya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dalam sebuah hadist yang shahih mengatakan,

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Dengan hadist di atas, bukan berarti muslim yang lemah tidak Allah cintai. Hanya saja jika disandingkan antara muslim yang kuat dengan muslim yang lemah, maka Allah lebih baik muslim yang kuat.

Kuat tak hanya fisik saja, namun lebih epada makna yang universal. Kuat iman, kuat ekonomi, kuat jasmani, kuat rohani, kuat perpolitikannya, dan lain sebagainya. Kekuatan yang itu semata-mata  hanya untuk kemaslahatan agama islam, serta dalam rangka membela Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam hadist lain, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam mengatakan,

“Jika engkau melihat kemungkaran, cegahlah dengan tangan (kekuasaan) mu. Jika engkau tak sanggup, cegahlah dengan lisanmu. Jika engkat tak sanggup, maka ingkarilah dengan hati. Itulah selemah-selamah iman. (HR Muslim).

Demikian perbedaan yang bisa dilakukan oleh orang mukmin yang kuat dengan orang mukmin yang dalam kondisi lemah. Mencegah dengan tangan, dengan kekuasaan, dengan kesejahteraan ekonomi, atau bilapun tidak maka dianjurkan mencegah dengan lisan. Jika mukmin belum mampu mencegah dengan dua cara itu, maka selemah-lemahnya iman adalah mengingkari kemungkaran di hadapan mata dengan hati.

 

Wallahu a’lam.