SERBA-SERBI MITOS DI BULAN SAFAR

Dalam kehidupan nyata, ada resepsi pernikahan yang menghindari bulan safar. bahkan jika terlanjur terjadwal, maka sebisa mungkin di tunda hingga menunggu selama 25 hari. Bila sudah lewat, maka resepsi dan hajat boleh diselenggarakan.
 
Masyarakat kita memiliki tradisi dan mitos yang unik. Misalnya saja seperti malam 1 Suro. Malam itu dikenal memiliki muatan aura mistis yang luar biasa. Sehingga banyak acara sakral berbau klenik dilakukan pada malam itu. Hal serupa juga sama dengan bulan Safar. Dianggap bulan yang membawa kesialan. Terlebih di tengah pandemi seperti saat ini.
 
Padahal kalau kita merujuk dari pada makna sebenarnya, maka anggapan demikian tidaklah benar. Malam 1 Suro, sama dengan malam 1 Muharam penanggalan hijriyah. Penanggalan yang dihitung berdasarkan peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Tak ada sangkut pautnya dengan kesakralan mistis tertentu.
 
Adapun anggapan bulan Safar sebagai bulan sial, maka ada baiknya kita menyimak Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Baginda Rasulullah shallallahu akaihi wasallam mengatakan,
 
“Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang para burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar.” (HR. Abu Hurairah)
 
Atau hadist riwayat Imam Bukhari,
 
“Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).
 
Dalam memanggapi hal ini, Syekh Utsaimin mengatakan bahwa maksud dari kata safar di redaksi hadist tersebut merujuk pada mitos orang-orang arab jahiliyah, yang menganggap bulan safar sebagai bulan penuh kesialan.
 
Sebagai seorang muslim, hendaknya kita menghindari anggapan tersebut. Sebab dapat menjerumuskan kita kepada perkara tasa’un. Anggapan sial, memupuk perkara syirik yang termasuk dalam dosa Al-Kabair. Dosa besar.
 
Di tengah pandemi, hal demikian sangat rawan terjadi. Sehingga sebaiknya kita memprotek diri dengan keimanan yang kokoh dankeyakinan yang salim.
 
Adapun musibah yang turun ke negeri kita, merupakan bagian dari ketentuan Allah. Sebagai hamba-Nya, kita hanya diminta untuk berikhtiar, bersabar dan bertawakal dalam menghadapi musibah ini. Sebagaimana Allah katakan dalam Al-Quran,
 
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Thagabun : 11)
 
Di Bulan kedua hijriyah ini, mari bergabung bersama program-program LAZ Swadaya Ummah. Di antaranya program pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
 
Caranya, dapat berpartisipasi menjadi donatur melalui rekening berikut :
 
BNI Syariah No. 011-3222-802
a/n. Swadaya Ummah
 
Kemudian melakukan konfirmasi di,
081365788214
 
Atau bisa langsung ke alamat berikut,
 
Gerai Zakat Swadaya Ummah
Jl. Soekarno-Hatta No. 70, Kel. Delima, Kec. Tampan, Kota Pekanbaru
Telp. 0761-565663