UJIAN MENCINTAI MASJID DI TENGAH PANDEMI

Masjid merupakan tempat mulia bagi kaum muslimin. bahgkan karenanya, ada masjid yang menjadi tempat termulia di muka bumi ini. yakni Makkah, Madinah dan Al-Quds. Ada banyak cara mencintai masjid. Salah satunya adalah dengan menautkan hati selalu kepada masjid dimanapun kita berada.
 
kendatipun demikian, ada sebagian masyarakat yang meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dan menimpa manusia di tengah pandemi ini adalah takdir Allah dimana manusia tak memiliki kekuasaan untuk merubahnya. Sehingga menurut pemahaman ini, manusia hanya diminta takut hanya kepada Allah bukan kepada corona, sehingga banyak protokoler kesehatan yang dilanggar dengan dalih mencintai masjid dan takut hanya kepada Allah. Bukan kepada corona. Dalil yang digunakan sebagai berikut,
 
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid. 22)
 
Pemahaman seperti ini seolah terlihat benar, namun sejatinya ia tak benar. Paham ini disebut Jabbariyah, dengan Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan sebagai tokoh utamanya. Paham ini menurut para ulama sebagai pemahaman yang menyimpang dari Ahlussunnah.
 
Namun sebagian masyarakat juga ada yang berpaham bahwa yang bisa melakukan penangulangan dan menghentikan covid 19 mutlak oleh tenaga ahli, baik medis, virolog maupun pandeminolog. Mereka meyakini, dengan memakai masker, APD, memperkuat imunitas dan menjalankan protokoler kesehatan, mampu mencegah Covid-19 ini dan mengusirnya dari Indonesia. Berpaham demikian bisa saja terjatuh dalam cara berpikir Qadariyah yang dipelopori oleh tokohnya dari Iraq bernama Ma’bad al-Juhni Al Bishri serta Washil bin Atha’. Seluruh ulama ahlussunnah sepakat, bahwa cara berpikir qadariyah adalah keliru dan menyimpang dari aqidah Sunni.
 
Semua itu adalah ujian bagi merek ayang mencintai masjid di tengah pandemi ini. Lalu bagaimana cara mencintai masjid yang benar dan tidak menyalahi kepahaman ahlussunnah?
 
Islam mengenal 3 cara. Yakni sabar, ikhtiar dan tawakal.
 
Sebagai muslim, hendaklah kita senantiasa bersabar atas musibah pandemi ini. Bersabar dalam menjalani segala aktivitas dan peribadatan di tengah pandemi.
 
Allah mengatakan, “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS al-Baqarah : 45).
 
Setelah bersabar dalam menjalani kehdupan di tengah pandemi, cara kedua hendaklah dengan berikhtiar. Caranya dengan mematuhi segala protokoler kesehatan dan tidak melanggarnya.
 
Allah mengatakan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS ar-Ra’d : 11)
 
Setelah bersabar dan berikhtiar, seorang muslim hendaklah bertawakal. Berserah diri kepada Allah. Menyerahakn hasil dari kesabaran dan ikhtiarnya hanya kepada Allah.
 
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah”. (QS Ali Imran : 159)
 
Tiga cara tersebut merupakan cara kita mencintai masjid di tengah pandemi. Sebab hanya orang yang hatinya selalu terpaut kepada masjidlah yang senantiasa selalu mengingat Allah dengan sabar, ikhtiar dan tawakal.
 
Wallahu a’lam
 
Ingin bergabung dalam program “Cinta Masjidku”?
 
Saudara dapat menyalurkan donasi saudara ke rekening kami untuk kegiatan perbaikan fasilitas masjid seperti toilet, tempat wudhu, atap yang bocor, karpet masjid, pembangunan masjid, dan lain sebagainya. Dapat di slaurkan melalui,
 
BNI Syariah No. 011-3222-802
a/n. Swadaya Ummah
 
Konfirmasi donasi, dapat menghubungi nomor berikut
081371728631